Mengenal Semantic Web/Web Semantik

Picture ofMengenal Semantic Web/Web Semantik
Sumber: semanticweb.org

Apa itu web semantik? Merujuk pada definisi dari wikipedia, Semantic Web atau Web Semantik adalah teknik yang memungkinkan isi sebuah Web untuk lebih bisa dibaca oleh mesin/komputer. Jadi, kalau web biasa lebih untuk dibaca manusia, web semantik selain bisa dibaca manusia juga mengandung data yang bisa dibaca mesin. Istilah Web Semantik dicetuskan oleh Tim Berners-Lee, penemu World Wide Web.

Web semantik sering diidentikkan dengan istilah web 3.0, Web generasi ketiga. Penggolongan ini merujuk pada tipe data yang disajikan. Web pada era web 1.0 hanya seperti papan pengumunan, sebuah informasi dari penerbit untuk dibaca oleh pengunjung tanpa bisa ikut berpartisipasi. Web 2.0 dekat dengan dunia media sosial. Web generasi ini memungkinkan interaksi antara pengunjung dengan pemilik, antar pengguna website, bahkan pengguna antar website melalui aplikasi yang disediakan. Facebook, Kompasiana, Twitter, forum, termasuk teknologi web 2.0.

Lalu apa Web 3.0? Web 3.0 menekankan “web of data” daripada sekedar “web of document”. Jadi, kalau “web of document”, lebih ke data yang bisa dilihat pengguna manusia, data yang bisa dilihat, “web of data” lebih diperuntukkan untuk dikonsumsi oleh software/mesin. Web Semantik juga sesuai dengan konsep “linked data”, data yang saling berhubungan. Teknologi Web Semantik menggunakan RDF (Resources Description Framework), RDFS (RDF Schema), RDFa (RDF in atritube), JSON-LD, XML, XMLS (XML Schema), SPARQL, OWL (web ontology language), SKOS (

The Resource Description Framework (RDF) merupakan spesifikasi dari W3C, yang didesain sebagai pemodelan metadata. RDF ditulis dengan bahasa XML, berisi informasi mengenai isi sebuah website. Ada juga RDFa (RDF in atribute) merupakan RDF yang bisa disisipkan dalam dokumen (X)HTML. RDFa juga sudah menjadi spesifikasi resmi W3c. Website paradesain.net menggunakan pemformatan RDFa.

Tampilan internet di browser yang bisa kita lihat merupakan dokumen HTML, tapi kita bisa menyisipkan data dalam tag HTML yang tidak terlihat di browser, tapi bisa dibaca oleh software/mesin. Data-data ini sering disebut metadata.

Contoh metadata, sebuah foto mempunyai metadata misalnya: tanggal diambil, jenis kamera, data kamera, dll. Begitu juga sebuah dokumen MsWord, menyimpan kapan dibuat, kapan diedit, siapa yang membuat, dll. Data-data ini tidak terlihat, tapi bisa dibaca oleh komputer untuk kemudian bisa dimanfaatkan dalam pengelolaan arsip.

Bagaimana metadata web? Web juga bisa disisipkan metadata. HTML mempunyai elemen meta yang menyediakan informasi dasar mengenai dokumen, misalnya: judul, deskripsi, keterangan gambar, link, dll. Data ini bisa diperluas dengan pemformatan yang beragam.

Metadata-metadata dari sebuah dokumen: foto, PDF, audio, video, ODF, atau halaman web yang akan dibaca oleh software untuk pengelompokan dan pengarsipan data. Bisa saja data-data ini saling terhubung, misalnya: Joko adalah seorang fotografer, mempunyai foto yang dimuat disebuah situs, dia mempunyai akun di media sosial, mempunyai teman 10 orang, dia juga pernah menulis sebuah artikel ilmiah di sebuah jurnal online internasional. Kalau masing-masing mempunyai metadata standar, maka akan bisa dihubungkan. Joko mempunyai foto di website A, artikel di website B, teman di website C, fotonya dipakai di website D, artikelnya dirujuk oleh website E, dll.

semantic web linked data

semantic web linked data, sumber:w3.org

Saat ini ada 3 jenis format metadata dalam dokumen HTML: Microformat, Microdata, dan RDFa. Masing-masing punya keungulan. Microformat yang paling sederhana. Microdata (dengan schema.org) yang dipakai oleh 3 Google, Bing, Yahoo, dan Yandex untuk mengelompokkan dalam hasil pencarian. Sementara RDFa (RDF in atribute) merupakan yang paling bisa diperluas dan merupakan standar dari W3C.

Untuk mengunakan RDFa kita memerlukan vocabulary/ontology, yang menyimpan istilah-istilah yang bisa dipakai untuk mengelompokkan data.

“Vocabularies define the concepts and relationships (also referred to as “terms”) used to describe and represent an area of concern. Vocabularies are used to classify the terms that can be used in a particular application, characterize possible relationships, and define possible constraints on using those terms. In practice, vocabularies can be very complex (with several thousands of terms) or very simple (describing one or two concepts only).

There is no clear division between what is referred to as “vocabularies” and “ontologies”. The trend is to use the word “ontology” for more complex, and possibly quite formal collection of terms, whereas “vocabulary” is used when such strict formalism is not necessarily used or only in a very loose sense. Vocabularies are the basic building blocks for inference techniques on the Semantic Web.”

See Ontology

Ada banyak lembaga yang membuat standar untuk keperluan sendiri atau dipakai oleh umum, misalnya: Dublin Core, Good Relation, Shcema.org (Schema.org direkomendasikan ditulis dalam format Microdata, tapi juga bisa ditulis dalam format RDfa), Bibliographic Ontology (Bibo), biasanya untuk jurnal ilmiah online, DBpedia, FOAF (friend of a friend), Vcard, dll. Masing-masing dibuat untuk menjadi standar dalam bidang yang berbeda-beda, misal: katalog buku, open goverment, arsip, tempat, orang, produk, dll. Bagusnya, kita bisa mengabungkan beberapa vocabulary dalam satu dokumen HTML.

Bagi yang mau mendalami semantic web, bisa mengunjungi link di bawah ini:

1. www.w3.org/standards/semanticweb
2. dublincore.org
3. semanticweb.org
4. www.w3.org/TR/xhtml-rdfa-primer/
5. schema.org
6. www.google.com/insidesearch/features/search/knowledge.html



2 Responses to “Mengenal Semantic Web/Web Semantik”

  1. [...] yang leih valid. Format data terstruktur atau dokumen yang berisi data dikenal dengan istilah Semantic Web. Memang banyak yang menyayangkan, sementara W3.org mengembangkan standar untuk web semantic dengan [...]

  2. [...] Saat ini Google, Yahoo, dan Bing bekerjasama untuk dalam proyek Schema.org untuk menciptakan untuk memberikan hasil pencarian yang lebih terstruktur. Schema.org merupakan vocabulary/ontology yang digunakan untuk menandai halaman sebuah web sehingga lebih bisa dikenali. Schema.org direkomendasikan digunakan dengan format Microdata. baca: Tutorial dasar Microdata + Schema.org. Misalnya: jenis tulisan, judul, tanggal dibuat, foto, rujukan, penulis, dll. Dengan tag iniJadi, judul yang bagus saja masih kurang, halaman web harus ditandai dengan baik menggunakan tag yang dikenali. baca: Mengenal Semantic Web [...]

Leave a Comment

©Copyleft 2007 - 2017 by paradesain.net :: Jasa Pembuatan Website. All Rights Reserved.
home / hubungi kami / rss / sitemap / valid xhtml / credit

Semua artikel dan dokumen PDF yang ditulis Paradesain.Net dan ditampilkan di website ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.